18, Jan 2026
Implementasi Teknologi Bangunan Hijau dalam Upaya Meraih Sertifikat EDGE

Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan akan bangunan berkelanjutan semakin tinggi. Pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat mulai menyadari bahwa efisiensi energi dan penghematan sumber daya bukan lagi sekedar trend. Lebih dari itu, ini merupakan kebutuhan nyata guna mengurangi dampak lingkungan. Salah satu standar bangunan hijau yang banyak digunakan secara global adalah sertifikat EDGE.

Mengenal Sertifikat EDGE dan Penerapan Teknologi yang Tepat untuk Mendapatkannya

EDGE atau Excellence in Design for Greater Efficiencies, merupakan sebuah sistem sertifikasi dari IFC, World Bank Group. EDGE menitikberatkan pada efisiensi sumber daya hingga material pembangunan.

Untuk meraih sertifikat ini, pengembang perlu menerapkan berbagai teknologi maupun strategi bangunan hijau yang sesuai. Berikut contoh-contoh penerapannya.

  1. Penghematan Energi secara Cerdas

Efisiensi energi menjadi komponen utama dalam perhitungan EDGE. Ada banyak teknologi yang bisa kita implementasikan untuk menurunkan konsumsi energi bangunan.

Sebagai contoh menggunakan lampu LED. Tipe penerangan LED mampu mengurangi konsumsi listrik hingga 50–80% daripada jenis lainnya. Selain efisien, umur pakainya juga lebih panjang.

Selanjutnya ada teknologi AC inverter yang lebih hemat karena mampu menyesuaikan kecepatan kompresor berdasarkan kebutuhan. Sistem VRV/VRF juga memungkinkan pengaturan suhu lebih presisi sekaligus efisien dalam bangunan besar.

Panel surya turut menjadi opsi tambahan dalam rangka mendukung pengurangan konsumsi listrik dari grid. Meski bukan syarat wajib, penggunaan Solar PV dapat meningkatkan skor efisiensi energi dalam sertifikat EDGE.

  1. Efisiensi Air Lewat Sistem Inovatif

Selain energi, penghematan air tidak kalah penting. Sertifikasi EDGE memberi syarat adanya pengurangan penggunaan air minimal 20% melalui teknologi dan penggunaan yang lebih efisien.

Contohnya pemasangan shower, faucet, dan dual flush toilet yang diklaim mampu menghemat 20–40% konsumsi air. Beberapa pengembang turut mengaplikasikan aerator yang mencampurkan udara dalam aliran air. Hal itu akhirnya dapat meminimalisir debit tanpa mengurangi kenyamanan penggunaan.

Sementara sistem penampungan air hujan dapat masyarakat manfaatkan untuk kebutuhan sampingan. Misalnya menyiram tanaman maupun flushing toilet.

  1. Pemilihan Material Ramah Lingkungan

Material adalah komponen ketiga dalam ketentuan sertifikasi EDGE. Di mana poin ini berfokus pada pengurangan total kebutuhan energi dalam material bangunan. Penerapannya dapat kita lakukan dengan memilih material yang memiliki kandungan daur ulang namun tetap mumpuni. Salah satunya panel komposit yang ramah lingkungan.

Selain itu, penggunaan material lokal dapat mengurangi emisi transportasi dan diakui sebagai poin efisiensi dalam EDGE. Bahkan pengaplikasian bata ringan AAC bisa mengurangi energi yang dibutuhkan dalam produksi maupun pemasangan.

  1. Sistem Otomatisasi Bangunan

Terakhir yang sudah banyak diterapkan di negara-negara maju adalah sistem otomatisasi bangunan. Teknologi otomasi ini membantu optimasi pemakaian energi serta air secara real-time. Maka penggunaan keduannya semakin tepat.

Contohnya Smart Thermostat yang mengatur suhu ruangan berdasarkan pola penggunaan maupun kehadiran penghuni. Ada juga Automatic Lighting Control sebagai sensor gerak dan cahaya. Ini memastikan lampu menyala hanya saat dibutuhkan.

Begitu juga dengan kehadiran Building Management System (BMS). Tujuannya guna memonitor penggunaan energi, performa peralatan, serta mempermudah penyusunan laporan untuk kebutuhan sertifikasi.

Meraih sertifikat EDGE tentu bukan hanya memenuhi standar, tetapi bentuk komitmen terhadap keberlanjutan. Melalui implementasi sistem dan teknologi di atas, pengembang dapat menciptakan bangunan yang hemat biaya, sehat bagi penghuni, sekaligus ramah lingkungan. Pastikan mengurus sertifikasi EDGE bersama ahlinya untuk memastikan proses penilaian lancar dan hasilnya benar-benar mencerminkan kinerja bangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Kriteria Bangunan Hijau di Indonesia yang Penting Diketahui

Bangunan hijau di Indonesia atau yang terkenal dengan istilah green building menarik untuk diketahui secara lebih mendalam.