Polisi tidur, antara butuh dan benci

Memang demikian kenyataannya, dibutuhkan sekaligus dibenci. Tapi kalo kita hitung-hitungan, kira-kira lebih banyak yang benci atau yang butuh?? Kita akan sepakat bahwa akan lebih banyak yang benci dari pada yang butuh, betul kan? Hitungan kasarnya gini. Yang butuh cuma beberapa keluarga yang tinggal di sekitar jalan tersebut yang ada polisi tidurnya. Sementara yang benci tentu lebih banyak, berdasarkan banyaknya orang yang melalui jalan tersebut. Dengan demikian antara untung dan rugi, secara kumulatif akan lebih  banyak kerugiannya.  Begitulah kira-kira gambaran polisi tidur yang dibuat sembarangan di sekitar tempat tinggal kita apalagi di perumahan kelas menengah ke bawah.

Polisi tidur / pembatas kecepatan kendaraan

Pembatas kecepatan kendaraan

Kita tidak menutup mata, alasan dibuatnya polisi tidur adalah karena sebagian pengguna jalan yang tidak tahu diri. Sudah tahu jalan sempit banyak anak-anak, masih ngebut juga. Atau pemilik kendaraan yang egois, mentang-mentang punya knalpot suara petir, nginjak atau narik gas gak sungkan-sungkan.

Polisi tidur di kenal juga dengan istilah alat pembatas kecepatan kendaraan. Terbuat dari semen atau aspal yang membentuk gundukan sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan dan dipasang melintang terhadap jalan. Tujuannya agar pengguna jalan memperlambat laju kendaraannya. Karena jalan-jalan yang ada umumnya milik pemerintah, maka pemerintahlah yang berhak dan bertanggung jawab terhadap jalan tersebut. Sehubungan dengan polisi tidur ini sudah ada peraturan pemerintah yang mengaturnya. Yaitu Keputusan Menteri Perhubungan no 3 Th 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan.

Ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan berdasarkan Kep Men tersebut, diantaranya:

1. Penempatan / pembuatan polisi tidur ini di tempatkan di:

a. Jalan dilingkungan pemukiman
b. Jalan lokal kels IIIC
c. pada jalan yang sedang ada pengerjaan konstruksi.

dan posisinya melintang tegak lurus terhadap badan jalan.

2. Berbentuk menyerupai trapesium, dengan sudut kelandaian / kemiringan di kedua sisinya maksimum 15% , serta ketinggian maksimum 120 mm (12 cm). Ilustrasinya seperti gambar berikut:

Standar ukuran polisi tidur, klik untuk perbesar

Standar ukuran polisi tidur

3. Penempatan polisi tidur pada jalur lalu lintas hasur diberi tanda berupa garis serong dari cat berwarna putih. untuk memberi peringatan kepada pengguna jalan tentang adanya polisi tidur.

3. Bahan polisi tidurnya harus disesuaikan dengan bahan pembuat jalan atau karet atau bahan lain yang mempunyai pengaruh serupa dengan syarat TIDAK MEMBAHAYAKAN pengguna jalan.

4. Pada jalur lalu lintas, penempatan polisi tidur di dahului oleh pemberian rambu peringatan adanya jalan tidak datar.

Rambu jalan tidak rata

Rambu jalan tidak rata

Demikian, sekelumit tentang polisi tidur ini, kita sama-sama membutuhkannya dan kita pun sama-sama membencinya jika dibuat tanpa atur. Mudah-mudahan bermanfaat di saat kita ingin membangun polisi tidur lagi di lingkungan kita.

Source & Pict: Kep Men Perhubungan no 3 Th 1994 & Wiki

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply